Jumat, 12 Juni 2015

Menyusun Reruntuhan Makam


Siapa tidak tahu dengan Gunung Rinjani?

Sebuah gunung di Lombok Utara yang begitu eksis dikalangan para pendaki ini, tidak perlu  diragukan lagi keindahan alamnya. Di balik keindahan tersebut, ternyata di kaki Gunung Rinjani menyimpan sebuah desa adat yang unik dan terkenal sebagai sejarah penyebaran islam di Lombok, serta tidak kalah indahnya dengan desa-desa adat lainnya di Lombok. Desa tersebut adalah desa Bayan Beleq Kecamatan Bayan Lombok Utara. Desa Bayan dibagi menjadi empat kampu  (wilayah) yaitu dusun Karang Bajo, dusun Bayan Barat, dusun Bayan Timur dan Loloan, namun kali ini saya berkesempatan mengunjungi dusun  Karang Bajo.

Setelah melewati dua setengah jam melakukan perjalanan darat dengan teman-teman dari Kota Mataram menggunakan mobil, rasa lelahpun terbayar dengan perasaan gembira ketika berhasil menginjakkan kaki di desa adat Bayan ini. Sepintas desa ini tidak jauh beda dengan desa adat lainnya, sama-sama memiliki budaya menenun bagi kaum wanita. Sebelum bertemu dengan kepala adat, kami diwajibkan untuk menggunakan kain terlebih dahulu untuk menjaga kesopanan memasuki wilayah mereka.





Rumah toa loka yang dibatasi dengan pagar bambu




Seorang wanita Bayan yang sedang menenun untuk dijadikan kain, tas, dll. 



Delapan Tahun Menunggu

Ketika dipandu oleh warga setempat untuk bertemu kepala adat (toa loka), kami terlebih dahulu melewati komplek masjid Beleq yang cukup terkenal sebagai ikon desa adat Bayan. Di komplek Masjid ini terdapat enam makam kuno para leluhur (Plawangan, Karangsalah, Anyar, Reak, Titi Mas Penghulu dan Sesait) yang terbuat dari susunan bambu dan atap jerami. Hingga saat ini makam tersebut masih begitu dihormati karena menjadi saksi penyebaran islam, namun sayangnya salah satu makamnya saat ini ada yang ambruk. Saya terheran sekali mengapa tidak segera diperbaiki? Di sinilah saya mulai semakin tertarik untuk lebih tahu tentang makam kuno desa Bayan, maka segeralah saya bertanya pada salah satu warga yang mengantar kami. Ia mengatakan bahwa untuk memperbaiki membutuhkan waktu selama delapan tahun.

               


Kami berfoto di depan masjid Beleq menggunakan kain untuk menghormati adat. 




Di belakang kami terlihat reruntuhan atap makam yang ambruk.



       Delapan tahun bukanlah waktu yang singkat, rupanya untuk memperbaiki makam mereka tidak bisa sembarangan karena harus mengikuti aturan adat. Pemilihan waktu juga haruslah tepat karena menunggu datangnya tahun Alip yang delapan tahun sekali, di samping itu dibutuhkan pula gotong royong warga desa adat Bayan. Untuk pebaikan atap pun biaya pembebanan dibagi atas empat desa, sesuai masing-masing arah atap (utara, selatan, barat dan timur). Ikatan aturan adat inilah yang menjadikan mereka taat dan sabar menunggu waktu untuk melakukan perbaikan makam selama delapan tahun sekali. 

        Saya kagum dengan warga Bayan, mereka memiliki budaya yang unik dan pantas dikatakan sebagai mahakarya Indonesia. Inilah salah satu bukti kekayaan budaya Indonesia yang ada di kaki Gunung Rinjani. Makam ini tidaklah mewah sehingga membutuhkan waktu delapan tahun, melainkan begitu sederhana hanya bambu dan jerami. Di sisi lain makam ini dapat berdiri karena kekuatan kekeluargaan dari warganya, sehingga dapat saling bahu membahu untuk mendirikan kembali.

       Walaupun masyarakat Bayan sudah tidak diragukan lagi kefasihannya dalam memegang teguh nilai adat, kendati demikian mereka juga berjuang keras mempertahankan adatnya di tengah gelombang jaman yang keras. Semangat masyarakat desa adat Bayan patut diapresiasi karena totalitas merekalah yang menjadi faktor pembentuk mahakarya Indonesia.

Kamis, 11 Juni 2015

Sesuap Nasi di Balik Kampung Dolanan


Beberapa waktu lalu saya sempat mengunjungi sebuah kampung di Bantul yang sering disebut sebagai “Kampung Dolanan”. Saya begitu penasaran dengan kampung ini, mengapa bisa disebut sebagai Kampung Dolanan? Mungkin telah banyak dipaparkan oleh para blogger atau orang-orang yang menceritakan bahwa Kampung yang berlokasi di desa Pandes ini merupakan tempat pengrajin dolanan tradisional. Namun, saya masih ingin mencari tahu mengapa Kampung Dolanan bisa tetap eksis di tengah perkembangan jaman yang serba canggih ini.

        Hari berikutnya, saya bergegas mengunjungi Kampung Dolanan. Sesampainya di Kampung Dolanan, awalnya saya tidak percaya karena sepi sekali dan hanya terdapat rumah-rumah warga, tidak seperti toko-toko mainan pusat perbelanjaan. Tapi rasa penasaran itu, membuat saya ingin menelusuri lebih dalam.

        Tidak lama kemudian, saya melihat beberapa boneka menyerupai orang-orangan sawah yang terbuat dari jerami dan dipasang di tepi jalan. Selain itu pada persimpangan jalan terdapat petunjuk arah rumah para pengrajin dolanan. Usut diusut, ternyata memang para pengrajin di Kampung Dolanan adalah para sesepuh di atas 70 tahun yang sejak dahulu sudah menjadi pengrajin.



Boneka menyerupai orang-orangan sawah di tepi jalan.



Petunjuk arah menuju rumah pengrajin Dolanan.


          Berjuang Bersama Kerasnya Jaman

Mbah Tomo, salah satu wanita pengrajin dolanan yang berusia 76 tahun. Sejak kecil beliau telah menghabiskan waktu untuk membuat dolanan bersama orang tuanya, namun saat ini beliau hanya membuat dolanan seorang diri. Anak dari mbah Tomo tidak ada yang membantu melanjutkan usaha ini karena dolanan tradisional saat ini sudah kalah dengan gadget canggih, sehingga kurang laku. Dolanan ini rata-rata terbuat dari kertas bekas, bambu benang dan kawat. Produk yang dihasilkan merupakan kitiran, kipas, payung-payungan, othok-othok, tabuhan, wayangan, sangkar burung dan sebagainya. Pembuatan dolanan tersebut tetap ia lakukan karena untuk mencari nafkah, padahal harga mainan sangat murah berkisar Rp. 2.000,- hingga Rp. 5.000,-.

        Tak beda dengan Mbah Tomo, pengrajin berikutnya bernama Mbah Joyo yang juga membuat dolanan dengan menghasilkan lima macam  produk yang serupa dengan Mbah Tomo. Beliau hidup seorang diri di sebuah rumah kecil dari anyaman bambu. Beliau selama ini bertahan hidup juga dengan membuat dolanan, namun apa daya ketika konsumen dolanan tradisional makin surut. Dengan semangat yang gigih, beliau tetap sabar menekuni hal tersebut. Baginya membuat dolanan tradisional juga mempertahankan budaya Indonesia. 

        Sebagai kaum muda, saya merasa tersentuh melihat kegigihan para pengrajin di Kampung Dolanan yang usianya sudah sangat tua namun semangatnya begitu besar. Mereka begitu kuat menghadapi keadaan jaman yang sudah berubah dan merekalah yang menghidupkan Kampung Dolanan. Walaupun sekarang sudah jarang anak-anak yang mau bermain dengan dolanan tradisional, namun inilah bukti mahakarya Indonesia yang patut diacungi jempol. Di Kampung Dolanan saat ini sudah mulai sering diadakan kegiatan bersama serta Festival Dolanan. Tak lepas dari itu, potensi budaya di desa Pandes ini wajib dijaga agar tidak punah begitu saja karena para pengrajin di Kampung Dolanan hanya tersisa beberapa orang saja.                        

 
Senyum Mbah Tomo sambil menawarkan dolanan buatannya. 




Mbah Joyo ditemani rangkaian kitiran warna-warni.




Contoh wayangan, sangkar burung, othok-othok, payung-payungan dan kipas.

Rabu, 10 Juni 2015

Berdiri Tanpa Tanah

Di balik kota Yogyakarta yang terkenal dengan sebutan "Jogja Istimewa" karena dipandang memiliki banyak keunikan, sejarah dan budaya, ternyata tidak semua wilayah di Yogyakarta dapat dipandang demikian. Pada kenyataannya, terdapat kampung-kampung kecil yang berada di pinggiran  kali dan masyarakatnya bermukim serta membangun rumah dengan sangat berdempetan.

Sejenak menyempatkan diri bersama dengan rekan-rekan saya menuju kampung Kricak, salah satu kampung kecil di Yogyakarta yang lokasinya dekat dengan kali. Sempat terbelalak ketika Pak RT memperlihatkan sebuah bangunan kecil berdiri di atas kali. Bangunan tersebut adalah Balai 35 milik  warga milik Kampung Kricak.  Kampung ini memiliki keunikan, karena warganya memiliki sosialisasi yang baik antar warga namun sayangnya karena sempitnya lahan yang mereka miliki membuat warga kampung Kricak kesulitan untuk melakukan aktifitas bersama. Mahalnya harga tanah membuat warga mau tidak mau kehilangan kebebasan bergerak. Sebagai warga pinggiran, warga kampung Kricak membutuhkan uluran tangan para relawan untuk terus berkembang. Salah satu wujud kepedulian dari seorang relawan adalah dengan munculnya bangunan balai tersebut. 




 Tanpa disadari bangunan balai mungil tersebut di atas anak kali
Doc : Alfa Desta (2014)




Terpanggil untuk menggerakkan hati

Sosok arsitek muda bernama Yoshi Fajar Kresno Murti, merupakan contoh relawan yang begitu peduli terhadap masyarakat kecil. Pada tahun 2005 sosok muda satu ini tergerak hatinya untuk mewujudkan mimpi warga sekitar kampung Kricak dengan mendesainkan sebuah balai warga sebagai tempat berkumpul, namun sebagai kendala adalah minimnya lahan di kampung tersebut. Saat itu hanya ada lahan kosong yang tepatnya di atas anak kali.

Berbekalkan tekat yang kuat, arsitek satu ini mengkumandangkan sebuah gagasan dengan membuat rancangan balai warga dengan menampung aspirasi warga sekitar. Beliau mencoba membantu merealisasikan balai tersebut berada di atas anak  kali, karena untuk bangunan fasilitas bersama diperbolehkan dibangun berdekatan dengan kali. Selain itu beliau memberi kesempatan warga untuk berdiskusi membuat miniatur balai sebagai pemodelan rancangan.


Mahakarya yang tidak ada harganya

Wujud kepeduliannya tidak hanya secara otoriter memimpin proses pembangunan balai, melainkan juga mengajak warga untuk bergotong royong. Sebagai arsitek beliau tidak semata-mata untuk mencari keuntungan dari sebuah proyek pembangunan, melainkan mendampingi dengan sepenuh hati. Bahkan beliau mencoba menggali potensi sekitar lokasi perencanaan balai dengan mengumpulkan material sisa / bahan yang mudah didapatkan dari lokasi, sehingga membantu penghematan warga. 

Proses pengerjaan balai cukup unik. Sebagian warga pria yang bisa menjadi tukang diajak untuk mengerjakan pekerjaan kasar, seperti memasang bata, menyiapkan semen. Sedangkan para wanita membantu memberi konsumsi dan untuk anak muda pada malam hari yang gemar nongkrong di balai sambil memasang pecahan-pecahan keramik untuk disusun sesuai pola. Inilah semangat para warga sebagai wujud kegembiraan mereka.



 Suasana gotong royong warga kampung Kricak membangun balai
Doc : Yoshi Fajar Kresno Murti - UGAHARI (2005)




Pemasangan pecahan-pecahan keramik menjadi pola lantai 
Doc : Yoshi Fajar Kresno Murti - UGAHARI (2005)


Interaksi dan sosialisasi warga begitu erat, mereka betul-betul memanfaatkan balai untuk kebersamaan. Balai tersebut tidak hanya dimanfaatkan sebagai tempat berkumpul, tetapi juga sebagai tempat belajar beserta perpustakan anak-anak, bahkan untuk hajatan dan keroncongan bersama. Kendati demikian, telah terjadi beberapa perubahan dari bangunan balai tersebut karena perbaikan serta menurunnya jumlah pengguna balai. Tetapi melalui kerendahan hati sosok arsitek muda tersebut telah menjadi pelopor dalam pembuatan mahakarya Indonesia dalam wujud yang sederhana, namun luar biasa maknanya. Mengagumkan, hingga saat ini balai warga 35 kampung Kricak masih tetap berdiri utuh. 







Senin, 16 Maret 2015

Pemintal Stagen



Selepas dari bangku SMP, aku melanjutkan pendidikan di Jogja. Sebelum masuk asrama aku tinggal di rumah nenekku yang tepatnya di Sejati Desa. Sempat takjub, ternyata Jogja yang sudah mulai penuh hiruk pikuk kota ini masih memiliki yang begitu asri ini, banyak persawahan, kebun tebu dan memiliki potensi masyarakat yang menjadi pemintal stagen.

“tek... kletek... kletek... bunyi alat pemintal stagen”

Pagi itu aku menyempatkan diri untuk bersepeda mengelilingi desa demi melihat para pemintal stagen di depan rumah mereka. Umumnya pengguna stagen adalah kaum wanita yang mengenakan kebaya dan membutuhkan stagen untuk mengencangkan kain pada perut. Demikian pula dengan para pemintal stagen ini yang juga merupakan wanita  sudah tua.

Pemintalan stagen dilakukan dengan alat tradisional yang terbuat dari kayu yang saat ini sudah langka. Namun amat disayangkan pula, karena pergeseran jaman inilah jumlah pemintal stagen semakin berkurang. Harapannya ini tidak punah begitu saja. Inilah ceritaku di Sejati Desa.


Gb. Pemintal stagen 


Lokasi:
Sejati Desa, Sumber Arum, Moyudan, Sleman, Yogyakarta.

Akses:
1  jam dari Bandara Adi sucipto Yogyakarta.

Jumat, 13 Maret 2015

Sebiduk Sehaluan


Saat aku berusia 10 tahun, orang tuaku memindahkan sekolahku di daerah Blitang (saat ini Buay Madang) yang sedikit lebih ramai dibandingkan daerahku. Ditempat ini aku selalu merasa tertarik karena memiliki sebuah irigasi air yang konon katanya ciptaan Belanda yang di beri nama Bendungan Komering (BK).  Uniknya pembagian nama wilayah di sana megikuti Pintu air/dam, maka menjadi BK1, BK2, BK3, hingga BK30. Irigasi yang bermuara dari sungai Komering ini memiliki pintu air utama yaitu Bendungan Perjaya. Adanya irigasi membuat kebutuhan air untuk pertanian tercukupi, sehingga banyak dijumpai persawahan.
 Terdapat mitos jika tercium bau amis dari air BK, maka artinya minta tumbal. Dalam beberapa waktu sekali memang selalu ada korban hanyut, baik itu meninggal ataupun berhasil selamat.

 
 Gb. Bendungan Perjaya
Sumber : 
 https://rieaiea.wordpress.com/2013/01/06/objek-wisata-bendungan-perjaya/



  
Gb. sungai BK 
                        Sumber:
                       prayogo.wordpress.com
 
 
Selama 5 tahun di sini aku tinggal bersama saudaraku. Lokasi yang aku tempati juga mayoritas adalah suku Jawa, namun tak jauh dari sini juga terdapat permukiman Bali Luhur, Bali Kalang, perdagangan milik etnis Cina dan pribumi setempat yaitu suku Komering/kampung. Kami hidup berdampingan dalam satu kabupaten, itulah mengapa moto dari daerah ini “Sebiduk Sehaluan”.
“menikah besok pagi! ”
Di sini berlaku hukum kaum pribumi bahwa anak gadis dilarang untuk main dengan teman pria melewati jam 18.00 sore hari (suku pribumi, baik keduanya/salah satu). Apabila melanggar, maka harus di cari dan esok harinya akan dinikahkan. Begitulah hukum adat, tentunya juga bertujuan untuk menjaga anak gadis agar jangan sampai melakukan hal yang buruk. Inilah sepenggal ceritaku di Blitang. Tempat yang sederhana, namun memiliki mitos dan keunikan.
         
Lokasi:
Bk.4 Buay Madang, Ogan Komering Ulu Timur (OKU Timur), Sumatera Selatan.
Akses:
Sumatera Selatan.
Akses: 
4 jam dari Bandara Sultan Badarudin 2 Palembang.

Kamis, 12 Maret 2015

Gigi Manusia Juga dapat Berkarat



Sekitar 12 tahun yang lalu aku pernah berkunjung kesebuah daerah yang lebih pelosok dari kampung kelahiranku yaitu di daerah Pasang surut, Kabupaten Musi Banyu Asin, Sumatera Selatan.  Namun amat disayangkan aku tidak sempat mendokumentasikan perjalanan ini.
         Jauh lebih mengerikan aksesnya karena tanpa aspal sama sekali dan banyak jembatan yang sedang proses pembangunan, sehingga hanya dapat di akses dengan jalan kaki untuk menuju rumah dan mobil ditinggal.

“mbak Tika giginya jadi merah...”

        Hari pertama aku di sana sudah merasa tidak nyaman karena sangat melelahkan dan kering tandus, walaupun berada di jalur aliran sungai Musi yang jika sore hari airnya pasang dan pagi menuju siang airnya surut. Masyarakat di sana tinggal di atas rumah panggung karena memang dekat dengan aliran sungai. Pada sore hari aku mengalami kebingungan untuk mandi karena penduduk di sana tidak memiliki kamar mandi, hanya wc cemplung dengan bedeng setengah badan. Bahkan untuk gosok gigi kami harus menggunakan air tampungan air hujan dengan sehemat mungkin.
        Alasan tersebut terjawab ketika ibu  mengajak aku  mandi di sebuah parit besar selebar 2 meter (sungai kecil) yang berada di pinggir jalan. Alangkah kagetnya, melihat hal tersebut karena harus mandi dengan keadaan terbuka dan jarak antara jalan dan parit hanya  dibatasi tanaman bonsai setinggi 1,5 meter. Air tanah di daerah Pasang surut ternyata mengandung karat, sehingga warga sangat berhati-hati untuk gosok gigi menggunakan air tersebut karena lama-kelamaan dapat menyebabkan gigi menjadi kemerahan seperti yang dialami salah satu rekanku, mbak Tika.
        Pada hari kedua, aku mulai mampu beradaptasi karena dapat merasakan tidur di dalam rumah panggung yang terbuat dari kayu. Keesokan harinya aku baru menyadari bahwa seburuk apapun tempat ini, tetap menyimpan keunikan tersendiri karena aku dapat menyaksikan perahu-perahu (getek) yang melintas di sungai dengan air yang makin surut. Tidak hanya itu, sulit dipercaya rasanya jika daerah yang kering dan tandus ini ternyata menyimpan hamparan perkebunan jeruk manis yang begitu menakjubkan. Maka tidak heran jika daerah tersebut menjadi penghasil jeruk. Demikian cerita lamaku, mungkin saat ini  daerah Pasang Surut sudah mengalami banyak perkembangan dan yang pasti tetap ingin kembali menginjakkan kaki di tempat ini.
         
Lokasi:
Pasang Surut  air, Musi Banyu Asin, Sumatera Selatan.
Akses:
4,5 jam dari Bandara Sultan Badarudin 2 Palembang.

Rabu, 11 Maret 2015

Pengrajut Kerai

“re.... kere.... kere....” itulah suara penjual kerai yang berkeliling naik sepeda di desaku. Para pengrajut kerai ini rata-rata berasal dari kampung tetangga, yaitu Bambu Kuning. Bambu Kuning merupakan  kampung yang di dominasi oleh suku kampung yang ada di sini.
        Warga Bambu Kuning sangat inovatif karena mampu menciptakan kerai atau umumnya di sebut tirai jendela dari bambu kini di modifikasi dari pelepah sawit. Pelepah yang tua pada umumnya hanya di buang, namun tangan terampil merekalah yang mampu mengubah pelepah tua tersebut menjadi benda bermanfaat bagi kebutuhan rumah tangga.

Gb. Perkebunan sawit untuk diambil pelepahnya
Sumber : Dokumen Pribadi
       

Gb. Rumah Panggung 

Sumber : Dokumen Pribadi

“Tatkala banjir, aku tetap baik-baik saja”

Suku kampung memang lincah, cukup familiar bahwa suku-suku di belahan Sumatera pada umumnya memiliki rumah adat berupa panggung karena umumnya mereka tinggal di sekitar sungai atau rawa. Demikian juga orang-orang Bambu kuning ini, kampung mereka di aliri sebuah sungai yang bernama Bambu Kuning.
Suku tersebut sering beraktivitas di bawah rumah panggung mereka dengan mengrajut pelepah sawit untuk dijadikan kere. Pemandangan yang begitu asik, melihat tangan-tangan lincah tersebut merajut.
        Saat musim hujan turun dan terjadi banjir, mereka sudah siap karena rumah yang dibangun sangat mengkondisikan cuaca/iklim. Salah satu kebiasaan yang biasa dilakukan pada musim banjir adalah berjualan ikan sungai. Demikian ceritaku, sebuah kampung yang biasa aku lewati setengah jam sebelum masuk kampungku.

Gb. Penjual Kemplang (pribumi di Kayuagung)
Sumber : Dokumen Pribadi

Lokasi:
Ds.Bambu Kuning, kecamatan Mesuji Raya, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.
Akses:

4,5 jam dari Bandara Sultan Badarudin 2 Palembang.

Selayang pandang burung melayang

“ketika krupuk mampu membuat aku tidak sekolah selama satu bulan lamanya”

Seorang anak menangis panjang, semakin lama semakin keras suaranya. Tanpa pikir panjang, warga sekitar langsung menyerbu untuk ingin tahu kejadian apa itu? Ternyata sejoli kakak beradik terjatuh dari sepedanya. Betapa kaget sang ibu melihat separuh wajah  anak nomor duanya luka parah bersimbah darah akibat terseret dari boncengan sepeda.
Siang itu adik sedang asik makan kerupuk dan tidak ikhlas ditinggal sang kakak bermain sepeda, itulah sebabnya si adik ingin sekali membonceng kakak dengan membawa kerupuknya di dalam
Plastik. Adik kehilangan kendali saat plastik kerupuk tersebut akan jatuh karena terkena angin. Gerak cepat sepeda tersebut membuat adik kaget, hingga wajahnya tersungkur di tanah dengan kaki yang masih berada di boncengan. Terseret sekitar 3 meter, hingga akhirnya terjatuh dan menangis keras.
Adik adalah aku. Aku teringat kejadian tersebut, karena waktu itu separuh wajahku hancur dan aku tidak sekolah selama satu bulan. Kejadian  yang berlokasi di desa kelahiranku itu membuat aku selalu rindu akan pemandangan serta hiruk pikuk di sana.

Gb. Perkebunan sawit 
Sumber: Dokumen pribadi



“kami berbeda suku, tapi tak mengapa?”

Aku tinggal di sebuah desa yang memiliki perkebunan sawit begitu luas, tepatnya di Ds.Sukasari, kecamatan Mesuji Raya, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Sebuah kampung transmigran tahun 70-an dengan mayoritas suku Jawa dan belum ada 15 tahun baru mendapat jatah PLN, bahkan jalan di daerah kami masih jarang tersentuh oleh aspal.
Sempat aku protes dan ingin menuliskan kritik untuk dipublikasi tentang kekurangan yang ada di sana, tetapi dilarang ibuku karena pada realitanya desa kami terbilang baru. Kemungkinan untuk pembenahan pastinya masih akan lama.
Apapun yang ada di sana aku tetap bangga, karena desaku menyimpan banyak satwa yang masih hidup liar. Setiap akan bepergian aku harus melalui hamparan perkebunan sawit dengan burung-burung berwarna indah yang berterbangan. Biawak adalah hewan yang sempat hidup liar di belakang rumahku. Penyu dan ular adalah hewan yang biasa berkeliaran di perkebunan. Konon kata ibu sewaktu ia hamil sempat ada beruang di dekat rumah. Namun, saat ini hewan-hewan tersebut sudah mulai hilang.  Inilah sepenggal cerita dari kampung kelahiranku.

Lokasi:
Ds.Sukasari, kecamatan Mesuji Raya, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.
Akses:

5 jam dari Bandara Sultan Badarudin 2 Palembang.