Jumat, 12 Juni 2015

Menyusun Reruntuhan Makam


Siapa tidak tahu dengan Gunung Rinjani?

Sebuah gunung di Lombok Utara yang begitu eksis dikalangan para pendaki ini, tidak perlu  diragukan lagi keindahan alamnya. Di balik keindahan tersebut, ternyata di kaki Gunung Rinjani menyimpan sebuah desa adat yang unik dan terkenal sebagai sejarah penyebaran islam di Lombok, serta tidak kalah indahnya dengan desa-desa adat lainnya di Lombok. Desa tersebut adalah desa Bayan Beleq Kecamatan Bayan Lombok Utara. Desa Bayan dibagi menjadi empat kampu  (wilayah) yaitu dusun Karang Bajo, dusun Bayan Barat, dusun Bayan Timur dan Loloan, namun kali ini saya berkesempatan mengunjungi dusun  Karang Bajo.

Setelah melewati dua setengah jam melakukan perjalanan darat dengan teman-teman dari Kota Mataram menggunakan mobil, rasa lelahpun terbayar dengan perasaan gembira ketika berhasil menginjakkan kaki di desa adat Bayan ini. Sepintas desa ini tidak jauh beda dengan desa adat lainnya, sama-sama memiliki budaya menenun bagi kaum wanita. Sebelum bertemu dengan kepala adat, kami diwajibkan untuk menggunakan kain terlebih dahulu untuk menjaga kesopanan memasuki wilayah mereka.





Rumah toa loka yang dibatasi dengan pagar bambu




Seorang wanita Bayan yang sedang menenun untuk dijadikan kain, tas, dll. 



Delapan Tahun Menunggu

Ketika dipandu oleh warga setempat untuk bertemu kepala adat (toa loka), kami terlebih dahulu melewati komplek masjid Beleq yang cukup terkenal sebagai ikon desa adat Bayan. Di komplek Masjid ini terdapat enam makam kuno para leluhur (Plawangan, Karangsalah, Anyar, Reak, Titi Mas Penghulu dan Sesait) yang terbuat dari susunan bambu dan atap jerami. Hingga saat ini makam tersebut masih begitu dihormati karena menjadi saksi penyebaran islam, namun sayangnya salah satu makamnya saat ini ada yang ambruk. Saya terheran sekali mengapa tidak segera diperbaiki? Di sinilah saya mulai semakin tertarik untuk lebih tahu tentang makam kuno desa Bayan, maka segeralah saya bertanya pada salah satu warga yang mengantar kami. Ia mengatakan bahwa untuk memperbaiki membutuhkan waktu selama delapan tahun.

               


Kami berfoto di depan masjid Beleq menggunakan kain untuk menghormati adat. 




Di belakang kami terlihat reruntuhan atap makam yang ambruk.



       Delapan tahun bukanlah waktu yang singkat, rupanya untuk memperbaiki makam mereka tidak bisa sembarangan karena harus mengikuti aturan adat. Pemilihan waktu juga haruslah tepat karena menunggu datangnya tahun Alip yang delapan tahun sekali, di samping itu dibutuhkan pula gotong royong warga desa adat Bayan. Untuk pebaikan atap pun biaya pembebanan dibagi atas empat desa, sesuai masing-masing arah atap (utara, selatan, barat dan timur). Ikatan aturan adat inilah yang menjadikan mereka taat dan sabar menunggu waktu untuk melakukan perbaikan makam selama delapan tahun sekali. 

        Saya kagum dengan warga Bayan, mereka memiliki budaya yang unik dan pantas dikatakan sebagai mahakarya Indonesia. Inilah salah satu bukti kekayaan budaya Indonesia yang ada di kaki Gunung Rinjani. Makam ini tidaklah mewah sehingga membutuhkan waktu delapan tahun, melainkan begitu sederhana hanya bambu dan jerami. Di sisi lain makam ini dapat berdiri karena kekuatan kekeluargaan dari warganya, sehingga dapat saling bahu membahu untuk mendirikan kembali.

       Walaupun masyarakat Bayan sudah tidak diragukan lagi kefasihannya dalam memegang teguh nilai adat, kendati demikian mereka juga berjuang keras mempertahankan adatnya di tengah gelombang jaman yang keras. Semangat masyarakat desa adat Bayan patut diapresiasi karena totalitas merekalah yang menjadi faktor pembentuk mahakarya Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar