Siapa tidak tahu dengan Gunung Rinjani?
Sebuah gunung di Lombok Utara yang begitu
eksis dikalangan para pendaki ini, tidak perlu diragukan lagi keindahan alamnya. Di balik keindahan
tersebut, ternyata di kaki Gunung Rinjani menyimpan sebuah desa adat
yang unik dan terkenal sebagai sejarah penyebaran islam di Lombok, serta tidak
kalah indahnya dengan desa-desa adat lainnya di Lombok. Desa tersebut adalah
desa Bayan Beleq Kecamatan Bayan Lombok Utara. Desa Bayan dibagi menjadi empat kampu (wilayah) yaitu dusun Karang Bajo, dusun Bayan
Barat, dusun Bayan Timur dan Loloan, namun kali ini saya berkesempatan
mengunjungi dusun Karang Bajo.
Setelah melewati dua setengah jam melakukan
perjalanan darat dengan teman-teman dari Kota Mataram menggunakan mobil, rasa
lelahpun terbayar dengan perasaan gembira ketika berhasil menginjakkan kaki di desa
adat Bayan ini. Sepintas desa ini tidak jauh beda dengan desa adat lainnya,
sama-sama memiliki budaya menenun bagi kaum wanita. Sebelum bertemu dengan
kepala adat, kami diwajibkan untuk menggunakan kain terlebih dahulu untuk
menjaga kesopanan memasuki wilayah mereka.
Rumah toa loka yang dibatasi dengan pagar bambu
Seorang wanita Bayan yang sedang menenun untuk dijadikan kain, tas, dll.
Delapan Tahun Menunggu
Ketika dipandu
oleh warga setempat untuk bertemu kepala adat (toa loka), kami terlebih dahulu melewati komplek masjid Beleq yang
cukup terkenal sebagai ikon desa adat Bayan. Di komplek Masjid ini terdapat enam
makam kuno para leluhur (Plawangan, Karangsalah, Anyar, Reak, Titi Mas Penghulu
dan Sesait) yang terbuat dari susunan bambu dan atap jerami. Hingga saat ini makam
tersebut masih begitu dihormati karena menjadi saksi penyebaran islam, namun
sayangnya salah satu makamnya saat ini ada yang ambruk. Saya terheran sekali mengapa
tidak segera diperbaiki? Di sinilah saya mulai semakin tertarik untuk lebih
tahu tentang makam kuno desa Bayan, maka segeralah saya bertanya pada salah
satu warga yang mengantar kami. Ia mengatakan bahwa untuk memperbaiki
membutuhkan waktu selama delapan tahun.
Kami berfoto di depan masjid Beleq menggunakan kain untuk menghormati adat.
Di belakang kami terlihat reruntuhan atap makam yang ambruk.
Delapan
tahun bukanlah waktu yang singkat, rupanya untuk memperbaiki makam mereka tidak
bisa sembarangan karena harus mengikuti aturan adat. Pemilihan waktu juga haruslah
tepat karena menunggu datangnya tahun Alip yang delapan tahun sekali, di
samping itu dibutuhkan pula gotong royong warga desa adat Bayan. Untuk pebaikan
atap pun biaya pembebanan dibagi atas empat desa, sesuai masing-masing arah
atap (utara, selatan, barat dan timur). Ikatan aturan adat inilah yang
menjadikan mereka taat dan sabar menunggu waktu untuk melakukan perbaikan makam
selama delapan tahun sekali.
Saya
kagum dengan warga Bayan, mereka memiliki budaya yang unik dan pantas dikatakan
sebagai mahakarya Indonesia. Inilah salah satu bukti kekayaan budaya Indonesia
yang ada di kaki Gunung Rinjani. Makam ini tidaklah mewah sehingga membutuhkan
waktu delapan tahun, melainkan begitu sederhana hanya bambu dan jerami. Di sisi
lain makam ini dapat berdiri karena kekuatan kekeluargaan dari warganya,
sehingga dapat saling bahu membahu untuk mendirikan kembali.
Walaupun
masyarakat Bayan sudah tidak diragukan lagi kefasihannya dalam memegang teguh
nilai adat, kendati demikian mereka juga berjuang keras mempertahankan adatnya
di tengah gelombang jaman yang keras. Semangat masyarakat desa adat Bayan patut
diapresiasi karena totalitas merekalah yang menjadi faktor pembentuk mahakarya
Indonesia.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar