Beberapa waktu lalu saya sempat
mengunjungi sebuah kampung di Bantul yang sering disebut sebagai “Kampung
Dolanan”. Saya begitu penasaran dengan kampung ini, mengapa bisa disebut
sebagai Kampung Dolanan? Mungkin telah banyak dipaparkan oleh para blogger atau orang-orang yang
menceritakan bahwa Kampung yang berlokasi di desa Pandes ini merupakan
tempat pengrajin dolanan tradisional. Namun, saya masih ingin mencari tahu
mengapa Kampung Dolanan bisa tetap eksis di tengah perkembangan jaman yang
serba canggih ini.
Hari berikutnya, saya bergegas mengunjungi Kampung Dolanan. Sesampainya di Kampung Dolanan, awalnya saya tidak percaya karena sepi sekali dan hanya terdapat rumah-rumah warga, tidak seperti toko-toko mainan pusat perbelanjaan. Tapi rasa penasaran itu, membuat saya ingin menelusuri lebih dalam.
Tidak
lama kemudian, saya melihat beberapa boneka menyerupai orang-orangan sawah yang terbuat dari jerami dan dipasang di tepi jalan. Selain itu pada
persimpangan jalan terdapat petunjuk arah rumah para pengrajin dolanan. Usut diusut, ternyata memang para pengrajin di Kampung Dolanan adalah
para sesepuh di atas 70 tahun yang sejak dahulu sudah menjadi pengrajin.
Boneka menyerupai orang-orangan sawah di tepi jalan.
Petunjuk arah menuju rumah pengrajin Dolanan.
Berjuang Bersama Kerasnya Jaman
Mbah Tomo, salah satu wanita
pengrajin dolanan yang berusia 76 tahun. Sejak kecil beliau telah menghabiskan
waktu untuk membuat dolanan bersama orang tuanya, namun saat ini beliau hanya
membuat dolanan seorang diri. Anak dari mbah Tomo tidak ada yang membantu
melanjutkan usaha ini karena dolanan tradisional saat ini sudah kalah dengan gadget canggih, sehingga kurang laku. Dolanan ini rata-rata terbuat dari kertas bekas, bambu benang dan kawat. Produk yang dihasilkan merupakan kitiran, kipas, payung-payungan, othok-othok, tabuhan, wayangan, sangkar burung dan sebagainya. Pembuatan dolanan tersebut tetap ia
lakukan karena untuk mencari nafkah, padahal harga mainan sangat murah berkisar Rp. 2.000,- hingga Rp. 5.000,-.
Tak
beda dengan Mbah Tomo, pengrajin berikutnya bernama Mbah Joyo yang juga membuat
dolanan dengan menghasilkan lima macam produk yang serupa dengan Mbah Tomo. Beliau
hidup seorang diri di sebuah rumah kecil dari anyaman bambu. Beliau selama ini
bertahan hidup juga dengan membuat dolanan, namun apa daya ketika konsumen
dolanan tradisional makin surut. Dengan semangat yang gigih, beliau tetap sabar
menekuni hal tersebut. Baginya membuat dolanan tradisional juga mempertahankan
budaya Indonesia.
Sebagai
kaum muda, saya merasa tersentuh melihat kegigihan para pengrajin di Kampung
Dolanan yang usianya sudah sangat tua namun semangatnya begitu besar. Mereka
begitu kuat menghadapi keadaan jaman yang sudah berubah dan merekalah yang menghidupkan Kampung Dolanan. Walaupun sekarang
sudah jarang anak-anak yang mau bermain dengan dolanan tradisional, namun
inilah bukti mahakarya Indonesia yang patut diacungi jempol. Di Kampung Dolanan
saat ini sudah mulai sering diadakan kegiatan bersama serta Festival Dolanan. Tak
lepas dari itu, potensi budaya di desa Pandes ini wajib dijaga agar tidak punah begitu saja
karena para pengrajin di Kampung Dolanan hanya tersisa beberapa orang saja.
Senyum Mbah Tomo sambil menawarkan dolanan buatannya.
Mbah Joyo ditemani rangkaian kitiran warna-warni.
Contoh wayangan, sangkar burung, othok-othok, payung-payungan dan kipas.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar