Kamis, 11 Juni 2015

Sesuap Nasi di Balik Kampung Dolanan


Beberapa waktu lalu saya sempat mengunjungi sebuah kampung di Bantul yang sering disebut sebagai “Kampung Dolanan”. Saya begitu penasaran dengan kampung ini, mengapa bisa disebut sebagai Kampung Dolanan? Mungkin telah banyak dipaparkan oleh para blogger atau orang-orang yang menceritakan bahwa Kampung yang berlokasi di desa Pandes ini merupakan tempat pengrajin dolanan tradisional. Namun, saya masih ingin mencari tahu mengapa Kampung Dolanan bisa tetap eksis di tengah perkembangan jaman yang serba canggih ini.

        Hari berikutnya, saya bergegas mengunjungi Kampung Dolanan. Sesampainya di Kampung Dolanan, awalnya saya tidak percaya karena sepi sekali dan hanya terdapat rumah-rumah warga, tidak seperti toko-toko mainan pusat perbelanjaan. Tapi rasa penasaran itu, membuat saya ingin menelusuri lebih dalam.

        Tidak lama kemudian, saya melihat beberapa boneka menyerupai orang-orangan sawah yang terbuat dari jerami dan dipasang di tepi jalan. Selain itu pada persimpangan jalan terdapat petunjuk arah rumah para pengrajin dolanan. Usut diusut, ternyata memang para pengrajin di Kampung Dolanan adalah para sesepuh di atas 70 tahun yang sejak dahulu sudah menjadi pengrajin.



Boneka menyerupai orang-orangan sawah di tepi jalan.



Petunjuk arah menuju rumah pengrajin Dolanan.


          Berjuang Bersama Kerasnya Jaman

Mbah Tomo, salah satu wanita pengrajin dolanan yang berusia 76 tahun. Sejak kecil beliau telah menghabiskan waktu untuk membuat dolanan bersama orang tuanya, namun saat ini beliau hanya membuat dolanan seorang diri. Anak dari mbah Tomo tidak ada yang membantu melanjutkan usaha ini karena dolanan tradisional saat ini sudah kalah dengan gadget canggih, sehingga kurang laku. Dolanan ini rata-rata terbuat dari kertas bekas, bambu benang dan kawat. Produk yang dihasilkan merupakan kitiran, kipas, payung-payungan, othok-othok, tabuhan, wayangan, sangkar burung dan sebagainya. Pembuatan dolanan tersebut tetap ia lakukan karena untuk mencari nafkah, padahal harga mainan sangat murah berkisar Rp. 2.000,- hingga Rp. 5.000,-.

        Tak beda dengan Mbah Tomo, pengrajin berikutnya bernama Mbah Joyo yang juga membuat dolanan dengan menghasilkan lima macam  produk yang serupa dengan Mbah Tomo. Beliau hidup seorang diri di sebuah rumah kecil dari anyaman bambu. Beliau selama ini bertahan hidup juga dengan membuat dolanan, namun apa daya ketika konsumen dolanan tradisional makin surut. Dengan semangat yang gigih, beliau tetap sabar menekuni hal tersebut. Baginya membuat dolanan tradisional juga mempertahankan budaya Indonesia. 

        Sebagai kaum muda, saya merasa tersentuh melihat kegigihan para pengrajin di Kampung Dolanan yang usianya sudah sangat tua namun semangatnya begitu besar. Mereka begitu kuat menghadapi keadaan jaman yang sudah berubah dan merekalah yang menghidupkan Kampung Dolanan. Walaupun sekarang sudah jarang anak-anak yang mau bermain dengan dolanan tradisional, namun inilah bukti mahakarya Indonesia yang patut diacungi jempol. Di Kampung Dolanan saat ini sudah mulai sering diadakan kegiatan bersama serta Festival Dolanan. Tak lepas dari itu, potensi budaya di desa Pandes ini wajib dijaga agar tidak punah begitu saja karena para pengrajin di Kampung Dolanan hanya tersisa beberapa orang saja.                        

 
Senyum Mbah Tomo sambil menawarkan dolanan buatannya. 




Mbah Joyo ditemani rangkaian kitiran warna-warni.




Contoh wayangan, sangkar burung, othok-othok, payung-payungan dan kipas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar