Di balik kota Yogyakarta yang terkenal dengan sebutan "Jogja
Istimewa" karena dipandang memiliki banyak keunikan, sejarah dan budaya, ternyata tidak semua wilayah di Yogyakarta dapat dipandang demikian. Pada
kenyataannya, terdapat kampung-kampung kecil yang berada di
pinggiran kali dan masyarakatnya bermukim serta
membangun rumah dengan sangat berdempetan.
Sejenak menyempatkan
diri bersama dengan rekan-rekan saya menuju kampung Kricak, salah satu kampung kecil di Yogyakarta yang
lokasinya dekat dengan kali. Sempat terbelalak ketika Pak RT memperlihatkan
sebuah bangunan kecil berdiri di atas kali.
Bangunan tersebut adalah Balai 35 milik
warga milik Kampung Kricak. Kampung
ini memiliki keunikan, karena warganya memiliki sosialisasi yang baik antar
warga namun sayangnya karena sempitnya lahan yang mereka miliki membuat warga
kampung Kricak kesulitan untuk melakukan aktifitas bersama. Mahalnya harga tanah
membuat warga mau tidak mau kehilangan kebebasan bergerak. Sebagai warga
pinggiran, warga kampung Kricak membutuhkan uluran tangan para relawan untuk terus
berkembang. Salah satu wujud kepedulian dari seorang relawan adalah dengan munculnya bangunan balai tersebut.
Tanpa disadari bangunan balai mungil tersebut di atas anak kali
Doc : Alfa Desta (2014)
Terpanggil untuk menggerakkan hati
Sosok arsitek muda bernama Yoshi Fajar Kresno Murti, merupakan contoh relawan yang begitu peduli terhadap masyarakat kecil. Pada tahun 2005 sosok muda satu ini tergerak hatinya untuk mewujudkan mimpi warga sekitar kampung Kricak dengan mendesainkan sebuah balai warga sebagai tempat berkumpul, namun sebagai kendala adalah minimnya lahan di kampung tersebut. Saat itu hanya ada lahan kosong yang tepatnya di atas anak kali.
Berbekalkan tekat yang kuat, arsitek satu ini mengkumandangkan sebuah gagasan dengan membuat rancangan balai warga dengan menampung aspirasi warga sekitar. Beliau mencoba membantu merealisasikan balai tersebut berada di atas anak kali, karena untuk bangunan fasilitas bersama diperbolehkan dibangun berdekatan dengan kali. Selain itu beliau memberi kesempatan warga untuk berdiskusi membuat miniatur balai sebagai pemodelan rancangan.
Mahakarya yang tidak ada harganya
Wujud kepeduliannya tidak hanya secara otoriter memimpin proses pembangunan balai, melainkan juga mengajak warga untuk bergotong royong. Sebagai arsitek beliau tidak semata-mata untuk mencari keuntungan dari sebuah proyek pembangunan, melainkan mendampingi dengan sepenuh hati. Bahkan beliau mencoba menggali potensi sekitar lokasi perencanaan balai dengan mengumpulkan material sisa / bahan yang mudah didapatkan dari lokasi, sehingga membantu penghematan warga.
Proses pengerjaan balai cukup unik. Sebagian warga pria yang bisa menjadi tukang diajak untuk mengerjakan pekerjaan kasar, seperti memasang bata, menyiapkan semen. Sedangkan para wanita membantu memberi konsumsi dan untuk anak muda pada malam hari yang gemar nongkrong di balai sambil memasang pecahan-pecahan keramik untuk disusun sesuai pola. Inilah semangat para warga sebagai wujud kegembiraan mereka.
Suasana gotong royong warga kampung Kricak membangun balai
Doc : Yoshi Fajar Kresno Murti - UGAHARI (2005)
Pemasangan pecahan-pecahan keramik menjadi pola lantai
Doc : Yoshi Fajar Kresno Murti - UGAHARI (2005)
Interaksi dan sosialisasi warga begitu erat, mereka betul-betul memanfaatkan balai untuk kebersamaan. Balai tersebut tidak hanya dimanfaatkan sebagai tempat berkumpul, tetapi juga sebagai tempat belajar beserta perpustakan anak-anak, bahkan untuk hajatan dan keroncongan bersama. Kendati demikian, telah terjadi beberapa perubahan dari bangunan balai tersebut karena perbaikan serta menurunnya jumlah pengguna balai. Tetapi melalui kerendahan hati sosok arsitek muda tersebut telah menjadi pelopor dalam pembuatan mahakarya Indonesia dalam wujud yang sederhana, namun luar biasa maknanya. Mengagumkan, hingga saat ini balai warga 35 kampung Kricak masih tetap berdiri utuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar