Senin, 16 Maret 2015

Pemintal Stagen



Selepas dari bangku SMP, aku melanjutkan pendidikan di Jogja. Sebelum masuk asrama aku tinggal di rumah nenekku yang tepatnya di Sejati Desa. Sempat takjub, ternyata Jogja yang sudah mulai penuh hiruk pikuk kota ini masih memiliki yang begitu asri ini, banyak persawahan, kebun tebu dan memiliki potensi masyarakat yang menjadi pemintal stagen.

“tek... kletek... kletek... bunyi alat pemintal stagen”

Pagi itu aku menyempatkan diri untuk bersepeda mengelilingi desa demi melihat para pemintal stagen di depan rumah mereka. Umumnya pengguna stagen adalah kaum wanita yang mengenakan kebaya dan membutuhkan stagen untuk mengencangkan kain pada perut. Demikian pula dengan para pemintal stagen ini yang juga merupakan wanita  sudah tua.

Pemintalan stagen dilakukan dengan alat tradisional yang terbuat dari kayu yang saat ini sudah langka. Namun amat disayangkan pula, karena pergeseran jaman inilah jumlah pemintal stagen semakin berkurang. Harapannya ini tidak punah begitu saja. Inilah ceritaku di Sejati Desa.


Gb. Pemintal stagen 


Lokasi:
Sejati Desa, Sumber Arum, Moyudan, Sleman, Yogyakarta.

Akses:
1  jam dari Bandara Adi sucipto Yogyakarta.

Jumat, 13 Maret 2015

Sebiduk Sehaluan


Saat aku berusia 10 tahun, orang tuaku memindahkan sekolahku di daerah Blitang (saat ini Buay Madang) yang sedikit lebih ramai dibandingkan daerahku. Ditempat ini aku selalu merasa tertarik karena memiliki sebuah irigasi air yang konon katanya ciptaan Belanda yang di beri nama Bendungan Komering (BK).  Uniknya pembagian nama wilayah di sana megikuti Pintu air/dam, maka menjadi BK1, BK2, BK3, hingga BK30. Irigasi yang bermuara dari sungai Komering ini memiliki pintu air utama yaitu Bendungan Perjaya. Adanya irigasi membuat kebutuhan air untuk pertanian tercukupi, sehingga banyak dijumpai persawahan.
 Terdapat mitos jika tercium bau amis dari air BK, maka artinya minta tumbal. Dalam beberapa waktu sekali memang selalu ada korban hanyut, baik itu meninggal ataupun berhasil selamat.

 
 Gb. Bendungan Perjaya
Sumber : 
 https://rieaiea.wordpress.com/2013/01/06/objek-wisata-bendungan-perjaya/



  
Gb. sungai BK 
                        Sumber:
                       prayogo.wordpress.com
 
 
Selama 5 tahun di sini aku tinggal bersama saudaraku. Lokasi yang aku tempati juga mayoritas adalah suku Jawa, namun tak jauh dari sini juga terdapat permukiman Bali Luhur, Bali Kalang, perdagangan milik etnis Cina dan pribumi setempat yaitu suku Komering/kampung. Kami hidup berdampingan dalam satu kabupaten, itulah mengapa moto dari daerah ini “Sebiduk Sehaluan”.
“menikah besok pagi! ”
Di sini berlaku hukum kaum pribumi bahwa anak gadis dilarang untuk main dengan teman pria melewati jam 18.00 sore hari (suku pribumi, baik keduanya/salah satu). Apabila melanggar, maka harus di cari dan esok harinya akan dinikahkan. Begitulah hukum adat, tentunya juga bertujuan untuk menjaga anak gadis agar jangan sampai melakukan hal yang buruk. Inilah sepenggal ceritaku di Blitang. Tempat yang sederhana, namun memiliki mitos dan keunikan.
         
Lokasi:
Bk.4 Buay Madang, Ogan Komering Ulu Timur (OKU Timur), Sumatera Selatan.
Akses:
Sumatera Selatan.
Akses: 
4 jam dari Bandara Sultan Badarudin 2 Palembang.

Kamis, 12 Maret 2015

Gigi Manusia Juga dapat Berkarat



Sekitar 12 tahun yang lalu aku pernah berkunjung kesebuah daerah yang lebih pelosok dari kampung kelahiranku yaitu di daerah Pasang surut, Kabupaten Musi Banyu Asin, Sumatera Selatan.  Namun amat disayangkan aku tidak sempat mendokumentasikan perjalanan ini.
         Jauh lebih mengerikan aksesnya karena tanpa aspal sama sekali dan banyak jembatan yang sedang proses pembangunan, sehingga hanya dapat di akses dengan jalan kaki untuk menuju rumah dan mobil ditinggal.

“mbak Tika giginya jadi merah...”

        Hari pertama aku di sana sudah merasa tidak nyaman karena sangat melelahkan dan kering tandus, walaupun berada di jalur aliran sungai Musi yang jika sore hari airnya pasang dan pagi menuju siang airnya surut. Masyarakat di sana tinggal di atas rumah panggung karena memang dekat dengan aliran sungai. Pada sore hari aku mengalami kebingungan untuk mandi karena penduduk di sana tidak memiliki kamar mandi, hanya wc cemplung dengan bedeng setengah badan. Bahkan untuk gosok gigi kami harus menggunakan air tampungan air hujan dengan sehemat mungkin.
        Alasan tersebut terjawab ketika ibu  mengajak aku  mandi di sebuah parit besar selebar 2 meter (sungai kecil) yang berada di pinggir jalan. Alangkah kagetnya, melihat hal tersebut karena harus mandi dengan keadaan terbuka dan jarak antara jalan dan parit hanya  dibatasi tanaman bonsai setinggi 1,5 meter. Air tanah di daerah Pasang surut ternyata mengandung karat, sehingga warga sangat berhati-hati untuk gosok gigi menggunakan air tersebut karena lama-kelamaan dapat menyebabkan gigi menjadi kemerahan seperti yang dialami salah satu rekanku, mbak Tika.
        Pada hari kedua, aku mulai mampu beradaptasi karena dapat merasakan tidur di dalam rumah panggung yang terbuat dari kayu. Keesokan harinya aku baru menyadari bahwa seburuk apapun tempat ini, tetap menyimpan keunikan tersendiri karena aku dapat menyaksikan perahu-perahu (getek) yang melintas di sungai dengan air yang makin surut. Tidak hanya itu, sulit dipercaya rasanya jika daerah yang kering dan tandus ini ternyata menyimpan hamparan perkebunan jeruk manis yang begitu menakjubkan. Maka tidak heran jika daerah tersebut menjadi penghasil jeruk. Demikian cerita lamaku, mungkin saat ini  daerah Pasang Surut sudah mengalami banyak perkembangan dan yang pasti tetap ingin kembali menginjakkan kaki di tempat ini.
         
Lokasi:
Pasang Surut  air, Musi Banyu Asin, Sumatera Selatan.
Akses:
4,5 jam dari Bandara Sultan Badarudin 2 Palembang.

Rabu, 11 Maret 2015

Pengrajut Kerai

“re.... kere.... kere....” itulah suara penjual kerai yang berkeliling naik sepeda di desaku. Para pengrajut kerai ini rata-rata berasal dari kampung tetangga, yaitu Bambu Kuning. Bambu Kuning merupakan  kampung yang di dominasi oleh suku kampung yang ada di sini.
        Warga Bambu Kuning sangat inovatif karena mampu menciptakan kerai atau umumnya di sebut tirai jendela dari bambu kini di modifikasi dari pelepah sawit. Pelepah yang tua pada umumnya hanya di buang, namun tangan terampil merekalah yang mampu mengubah pelepah tua tersebut menjadi benda bermanfaat bagi kebutuhan rumah tangga.

Gb. Perkebunan sawit untuk diambil pelepahnya
Sumber : Dokumen Pribadi
       

Gb. Rumah Panggung 

Sumber : Dokumen Pribadi

“Tatkala banjir, aku tetap baik-baik saja”

Suku kampung memang lincah, cukup familiar bahwa suku-suku di belahan Sumatera pada umumnya memiliki rumah adat berupa panggung karena umumnya mereka tinggal di sekitar sungai atau rawa. Demikian juga orang-orang Bambu kuning ini, kampung mereka di aliri sebuah sungai yang bernama Bambu Kuning.
Suku tersebut sering beraktivitas di bawah rumah panggung mereka dengan mengrajut pelepah sawit untuk dijadikan kere. Pemandangan yang begitu asik, melihat tangan-tangan lincah tersebut merajut.
        Saat musim hujan turun dan terjadi banjir, mereka sudah siap karena rumah yang dibangun sangat mengkondisikan cuaca/iklim. Salah satu kebiasaan yang biasa dilakukan pada musim banjir adalah berjualan ikan sungai. Demikian ceritaku, sebuah kampung yang biasa aku lewati setengah jam sebelum masuk kampungku.

Gb. Penjual Kemplang (pribumi di Kayuagung)
Sumber : Dokumen Pribadi

Lokasi:
Ds.Bambu Kuning, kecamatan Mesuji Raya, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.
Akses:

4,5 jam dari Bandara Sultan Badarudin 2 Palembang.

Selayang pandang burung melayang

“ketika krupuk mampu membuat aku tidak sekolah selama satu bulan lamanya”

Seorang anak menangis panjang, semakin lama semakin keras suaranya. Tanpa pikir panjang, warga sekitar langsung menyerbu untuk ingin tahu kejadian apa itu? Ternyata sejoli kakak beradik terjatuh dari sepedanya. Betapa kaget sang ibu melihat separuh wajah  anak nomor duanya luka parah bersimbah darah akibat terseret dari boncengan sepeda.
Siang itu adik sedang asik makan kerupuk dan tidak ikhlas ditinggal sang kakak bermain sepeda, itulah sebabnya si adik ingin sekali membonceng kakak dengan membawa kerupuknya di dalam
Plastik. Adik kehilangan kendali saat plastik kerupuk tersebut akan jatuh karena terkena angin. Gerak cepat sepeda tersebut membuat adik kaget, hingga wajahnya tersungkur di tanah dengan kaki yang masih berada di boncengan. Terseret sekitar 3 meter, hingga akhirnya terjatuh dan menangis keras.
Adik adalah aku. Aku teringat kejadian tersebut, karena waktu itu separuh wajahku hancur dan aku tidak sekolah selama satu bulan. Kejadian  yang berlokasi di desa kelahiranku itu membuat aku selalu rindu akan pemandangan serta hiruk pikuk di sana.

Gb. Perkebunan sawit 
Sumber: Dokumen pribadi



“kami berbeda suku, tapi tak mengapa?”

Aku tinggal di sebuah desa yang memiliki perkebunan sawit begitu luas, tepatnya di Ds.Sukasari, kecamatan Mesuji Raya, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Sebuah kampung transmigran tahun 70-an dengan mayoritas suku Jawa dan belum ada 15 tahun baru mendapat jatah PLN, bahkan jalan di daerah kami masih jarang tersentuh oleh aspal.
Sempat aku protes dan ingin menuliskan kritik untuk dipublikasi tentang kekurangan yang ada di sana, tetapi dilarang ibuku karena pada realitanya desa kami terbilang baru. Kemungkinan untuk pembenahan pastinya masih akan lama.
Apapun yang ada di sana aku tetap bangga, karena desaku menyimpan banyak satwa yang masih hidup liar. Setiap akan bepergian aku harus melalui hamparan perkebunan sawit dengan burung-burung berwarna indah yang berterbangan. Biawak adalah hewan yang sempat hidup liar di belakang rumahku. Penyu dan ular adalah hewan yang biasa berkeliaran di perkebunan. Konon kata ibu sewaktu ia hamil sempat ada beruang di dekat rumah. Namun, saat ini hewan-hewan tersebut sudah mulai hilang.  Inilah sepenggal cerita dari kampung kelahiranku.

Lokasi:
Ds.Sukasari, kecamatan Mesuji Raya, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.
Akses:

5 jam dari Bandara Sultan Badarudin 2 Palembang.

About ME



Hallo sahabat pena, ini adalah sekilas perkenalanku....

Nama            : Agnes Ardiana Ariyantani
Pendidikan  : Jurusan Arsitektur UAJY'12

         Kesempatan kali ini, aku  mencoba menceritakan mengenai perjalanan-perjalanan yang pernah aku tempuh, terutama mengenai sebuah kampung/desa yang ada di pojok negeri ini. Aku senang melakukan sebuah perjalanan, terutama di kampung-kampung.

Mengapa kampung?

       Terlahir di sebuah kampung menjadikan aku semakin memiliki rasa simpati terhadap kampung/desa. Hal ini menjadi alasan yang kuat bagiku untuk ingin bercerita. Melalui sudut pandang arsitektur, bagaimana kita dapat banyak belajar dari sebuah kampung yang terus berdinamika bersama pesatnya arus globalisasi. Sehingga tidak hanya sebuah kota saja yang dapat kita pelajari, melainkan masih banyak sudut-sudut Indonesia ini yang belum terekspos. 

        Aku senang menulis, walaupun ini hanya ala kadarnya. Dalam blog ini aku akan bercerita melalui perjalananku yang dikemas dalam bentuk narasi atau cerpen, namun pada dasarnya berlatar belakang di sebuah kampung.