Sekitar 12 tahun yang
lalu aku pernah berkunjung kesebuah daerah yang lebih pelosok dari kampung
kelahiranku yaitu di daerah Pasang surut, Kabupaten Musi Banyu Asin, Sumatera
Selatan. Namun amat disayangkan aku tidak sempat mendokumentasikan perjalanan ini.
Jauh lebih mengerikan aksesnya karena tanpa aspal sama sekali dan
banyak jembatan yang sedang proses pembangunan, sehingga hanya dapat di akses
dengan jalan kaki untuk menuju rumah dan mobil ditinggal.
“mbak Tika giginya jadi
merah...”
Hari pertama aku di sana sudah merasa tidak nyaman karena
sangat melelahkan dan kering tandus, walaupun berada di jalur aliran sungai
Musi yang jika sore hari airnya pasang dan pagi menuju siang airnya surut.
Masyarakat di sana tinggal di atas rumah panggung karena memang dekat dengan
aliran sungai. Pada sore hari aku mengalami kebingungan untuk mandi karena
penduduk di sana tidak memiliki kamar mandi, hanya wc cemplung dengan bedeng
setengah badan. Bahkan untuk gosok gigi kami harus menggunakan air tampungan
air hujan dengan sehemat mungkin.
Alasan tersebut terjawab ketika ibu mengajak aku mandi di sebuah parit besar selebar 2 meter
(sungai kecil) yang berada di pinggir jalan. Alangkah kagetnya, melihat hal
tersebut karena harus mandi dengan keadaan terbuka dan jarak antara jalan dan
parit hanya dibatasi tanaman bonsai
setinggi 1,5 meter. Air tanah di daerah Pasang surut ternyata mengandung karat,
sehingga warga sangat berhati-hati untuk gosok gigi menggunakan air tersebut
karena lama-kelamaan dapat menyebabkan gigi menjadi kemerahan seperti yang
dialami salah satu rekanku, mbak Tika.
Pada hari kedua, aku mulai mampu beradaptasi karena dapat
merasakan tidur di dalam rumah panggung yang terbuat dari kayu. Keesokan
harinya aku baru menyadari bahwa seburuk apapun tempat ini, tetap menyimpan
keunikan tersendiri karena aku dapat menyaksikan perahu-perahu (getek) yang
melintas di sungai dengan air yang makin surut. Tidak hanya itu, sulit
dipercaya rasanya jika daerah yang kering dan tandus ini ternyata menyimpan
hamparan perkebunan jeruk manis yang begitu menakjubkan. Maka tidak heran jika
daerah tersebut menjadi penghasil jeruk. Demikian cerita lamaku, mungkin saat
ini daerah Pasang Surut sudah mengalami
banyak perkembangan dan yang pasti tetap ingin kembali menginjakkan kaki di
tempat ini.
Lokasi:
Pasang Surut air, Musi Banyu Asin, Sumatera Selatan.
Akses:
4,5 jam dari Bandara Sultan
Badarudin 2 Palembang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar