“ketika krupuk mampu
membuat aku tidak sekolah selama satu bulan lamanya”
Seorang
anak menangis panjang, semakin lama semakin keras suaranya. Tanpa pikir
panjang, warga sekitar langsung menyerbu untuk ingin tahu kejadian apa itu?
Ternyata sejoli kakak beradik terjatuh dari sepedanya. Betapa kaget sang ibu melihat
separuh wajah anak nomor duanya luka
parah bersimbah darah akibat terseret dari boncengan sepeda.
Siang
itu adik sedang asik makan kerupuk dan tidak ikhlas ditinggal sang kakak
bermain sepeda, itulah sebabnya si adik ingin sekali membonceng kakak dengan
membawa kerupuknya di dalam
Plastik. Adik kehilangan
kendali saat plastik kerupuk tersebut akan jatuh karena terkena angin. Gerak
cepat sepeda tersebut membuat adik kaget, hingga wajahnya tersungkur di tanah
dengan kaki yang masih berada di boncengan. Terseret sekitar 3 meter, hingga
akhirnya terjatuh dan menangis keras.
Adik
adalah aku. Aku teringat kejadian tersebut, karena waktu itu separuh wajahku
hancur dan aku tidak sekolah selama satu bulan. Kejadian yang berlokasi di desa kelahiranku itu membuat
aku selalu rindu akan pemandangan serta hiruk pikuk di sana.
Gb. Perkebunan sawit
Sumber: Dokumen pribadi
“kami
berbeda suku, tapi tak mengapa?”
Aku
tinggal di sebuah desa yang memiliki perkebunan sawit begitu luas, tepatnya di
Ds.Sukasari, kecamatan Mesuji Raya, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.
Sebuah kampung transmigran tahun 70-an dengan mayoritas suku Jawa dan belum ada
15 tahun baru mendapat jatah PLN, bahkan jalan di daerah kami masih jarang
tersentuh oleh aspal.
Sempat
aku protes dan ingin menuliskan kritik untuk dipublikasi tentang kekurangan
yang ada di sana, tetapi dilarang ibuku karena pada realitanya desa kami
terbilang baru. Kemungkinan untuk pembenahan pastinya masih akan lama.
Apapun
yang ada di sana aku tetap bangga, karena desaku menyimpan banyak satwa yang
masih hidup liar. Setiap akan bepergian aku harus melalui hamparan perkebunan
sawit dengan burung-burung berwarna indah yang berterbangan. Biawak adalah
hewan yang sempat hidup liar di belakang rumahku. Penyu dan ular adalah hewan
yang biasa berkeliaran di perkebunan. Konon kata ibu sewaktu ia hamil sempat
ada beruang di dekat rumah. Namun, saat ini hewan-hewan tersebut sudah mulai
hilang. Inilah sepenggal cerita dari
kampung kelahiranku.
Lokasi:
Ds.Sukasari, kecamatan
Mesuji Raya, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.
Akses:
5 jam dari Bandara Sultan Badarudin
2 Palembang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar