Rabu, 11 Maret 2015

Selayang pandang burung melayang

“ketika krupuk mampu membuat aku tidak sekolah selama satu bulan lamanya”

Seorang anak menangis panjang, semakin lama semakin keras suaranya. Tanpa pikir panjang, warga sekitar langsung menyerbu untuk ingin tahu kejadian apa itu? Ternyata sejoli kakak beradik terjatuh dari sepedanya. Betapa kaget sang ibu melihat separuh wajah  anak nomor duanya luka parah bersimbah darah akibat terseret dari boncengan sepeda.
Siang itu adik sedang asik makan kerupuk dan tidak ikhlas ditinggal sang kakak bermain sepeda, itulah sebabnya si adik ingin sekali membonceng kakak dengan membawa kerupuknya di dalam
Plastik. Adik kehilangan kendali saat plastik kerupuk tersebut akan jatuh karena terkena angin. Gerak cepat sepeda tersebut membuat adik kaget, hingga wajahnya tersungkur di tanah dengan kaki yang masih berada di boncengan. Terseret sekitar 3 meter, hingga akhirnya terjatuh dan menangis keras.
Adik adalah aku. Aku teringat kejadian tersebut, karena waktu itu separuh wajahku hancur dan aku tidak sekolah selama satu bulan. Kejadian  yang berlokasi di desa kelahiranku itu membuat aku selalu rindu akan pemandangan serta hiruk pikuk di sana.

Gb. Perkebunan sawit 
Sumber: Dokumen pribadi



“kami berbeda suku, tapi tak mengapa?”

Aku tinggal di sebuah desa yang memiliki perkebunan sawit begitu luas, tepatnya di Ds.Sukasari, kecamatan Mesuji Raya, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Sebuah kampung transmigran tahun 70-an dengan mayoritas suku Jawa dan belum ada 15 tahun baru mendapat jatah PLN, bahkan jalan di daerah kami masih jarang tersentuh oleh aspal.
Sempat aku protes dan ingin menuliskan kritik untuk dipublikasi tentang kekurangan yang ada di sana, tetapi dilarang ibuku karena pada realitanya desa kami terbilang baru. Kemungkinan untuk pembenahan pastinya masih akan lama.
Apapun yang ada di sana aku tetap bangga, karena desaku menyimpan banyak satwa yang masih hidup liar. Setiap akan bepergian aku harus melalui hamparan perkebunan sawit dengan burung-burung berwarna indah yang berterbangan. Biawak adalah hewan yang sempat hidup liar di belakang rumahku. Penyu dan ular adalah hewan yang biasa berkeliaran di perkebunan. Konon kata ibu sewaktu ia hamil sempat ada beruang di dekat rumah. Namun, saat ini hewan-hewan tersebut sudah mulai hilang.  Inilah sepenggal cerita dari kampung kelahiranku.

Lokasi:
Ds.Sukasari, kecamatan Mesuji Raya, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.
Akses:

5 jam dari Bandara Sultan Badarudin 2 Palembang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar