“re.... kere....
kere....” itulah suara penjual kerai yang berkeliling naik sepeda di desaku.
Para pengrajut kerai ini rata-rata berasal dari kampung tetangga, yaitu Bambu
Kuning. Bambu Kuning merupakan kampung
yang di dominasi oleh suku kampung yang ada di sini.
Warga Bambu Kuning sangat inovatif karena mampu menciptakan
kerai atau umumnya di sebut tirai jendela dari bambu kini di modifikasi dari pelepah
sawit. Pelepah yang tua pada umumnya hanya di buang, namun tangan terampil
merekalah yang mampu mengubah pelepah tua tersebut menjadi benda bermanfaat
bagi kebutuhan rumah tangga.
Gb. Perkebunan sawit untuk diambil pelepahnya
Sumber : Dokumen Pribadi
“Tatkala banjir, aku
tetap baik-baik saja”
Suku
kampung memang lincah, cukup familiar bahwa suku-suku di belahan Sumatera pada
umumnya memiliki rumah adat berupa panggung karena umumnya mereka tinggal di
sekitar sungai atau rawa. Demikian juga orang-orang Bambu kuning ini, kampung
mereka di aliri sebuah sungai yang bernama Bambu Kuning.
Suku
tersebut sering beraktivitas di bawah rumah panggung mereka dengan mengrajut
pelepah sawit untuk dijadikan kere. Pemandangan yang begitu asik, melihat
tangan-tangan lincah tersebut merajut.
Saat musim hujan turun dan terjadi banjir, mereka sudah siap
karena rumah yang dibangun sangat mengkondisikan cuaca/iklim. Salah satu
kebiasaan yang biasa dilakukan pada musim banjir adalah berjualan ikan sungai.
Demikian ceritaku, sebuah kampung yang biasa aku lewati setengah jam sebelum
masuk kampungku.
Lokasi:
Ds.Bambu Kuning,
kecamatan Mesuji Raya, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.
Akses:
4,5 jam dari Bandara Sultan
Badarudin 2 Palembang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar