Rabu, 11 Maret 2015

Pengrajut Kerai

“re.... kere.... kere....” itulah suara penjual kerai yang berkeliling naik sepeda di desaku. Para pengrajut kerai ini rata-rata berasal dari kampung tetangga, yaitu Bambu Kuning. Bambu Kuning merupakan  kampung yang di dominasi oleh suku kampung yang ada di sini.
        Warga Bambu Kuning sangat inovatif karena mampu menciptakan kerai atau umumnya di sebut tirai jendela dari bambu kini di modifikasi dari pelepah sawit. Pelepah yang tua pada umumnya hanya di buang, namun tangan terampil merekalah yang mampu mengubah pelepah tua tersebut menjadi benda bermanfaat bagi kebutuhan rumah tangga.

Gb. Perkebunan sawit untuk diambil pelepahnya
Sumber : Dokumen Pribadi
       

Gb. Rumah Panggung 

Sumber : Dokumen Pribadi

“Tatkala banjir, aku tetap baik-baik saja”

Suku kampung memang lincah, cukup familiar bahwa suku-suku di belahan Sumatera pada umumnya memiliki rumah adat berupa panggung karena umumnya mereka tinggal di sekitar sungai atau rawa. Demikian juga orang-orang Bambu kuning ini, kampung mereka di aliri sebuah sungai yang bernama Bambu Kuning.
Suku tersebut sering beraktivitas di bawah rumah panggung mereka dengan mengrajut pelepah sawit untuk dijadikan kere. Pemandangan yang begitu asik, melihat tangan-tangan lincah tersebut merajut.
        Saat musim hujan turun dan terjadi banjir, mereka sudah siap karena rumah yang dibangun sangat mengkondisikan cuaca/iklim. Salah satu kebiasaan yang biasa dilakukan pada musim banjir adalah berjualan ikan sungai. Demikian ceritaku, sebuah kampung yang biasa aku lewati setengah jam sebelum masuk kampungku.

Gb. Penjual Kemplang (pribumi di Kayuagung)
Sumber : Dokumen Pribadi

Lokasi:
Ds.Bambu Kuning, kecamatan Mesuji Raya, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.
Akses:

4,5 jam dari Bandara Sultan Badarudin 2 Palembang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar