Saat aku berusia 10 tahun, orang
tuaku memindahkan sekolahku di daerah Blitang (saat ini Buay Madang) yang
sedikit lebih ramai dibandingkan daerahku. Ditempat ini aku selalu merasa
tertarik karena memiliki sebuah irigasi air yang konon katanya ciptaan Belanda
yang di beri nama Bendungan Komering (BK).
Uniknya pembagian nama wilayah di sana megikuti Pintu air/dam, maka
menjadi BK1, BK2, BK3, hingga BK30. Irigasi yang bermuara dari sungai Komering ini memiliki pintu air utama yaitu Bendungan Perjaya. Adanya irigasi membuat kebutuhan air untuk
pertanian tercukupi, sehingga banyak dijumpai persawahan.
Terdapat mitos jika tercium bau amis dari air
BK, maka artinya minta tumbal. Dalam beberapa waktu sekali memang selalu ada
korban hanyut, baik itu meninggal ataupun berhasil selamat.
Gb. Bendungan Perjaya
Sumber :
https://rieaiea.wordpress.com/2013/01/06/objek-wisata-bendungan-perjaya/
Gb. sungai BK
Sumber:
Selama 5 tahun di sini aku tinggal bersama
saudaraku. Lokasi yang aku tempati juga mayoritas adalah suku Jawa, namun tak
jauh dari sini juga terdapat permukiman Bali Luhur, Bali Kalang, perdagangan
milik etnis Cina dan pribumi setempat yaitu suku Komering/kampung. Kami hidup
berdampingan dalam satu kabupaten, itulah mengapa moto dari daerah ini “Sebiduk
Sehaluan”.
“menikah besok pagi! ”
Di
sini berlaku hukum kaum pribumi bahwa anak gadis dilarang untuk main dengan
teman pria melewati jam 18.00 sore hari (suku pribumi, baik keduanya/salah satu).
Apabila melanggar, maka harus di cari dan esok harinya akan dinikahkan.
Begitulah hukum adat, tentunya juga bertujuan untuk menjaga anak gadis agar
jangan sampai melakukan hal yang buruk. Inilah sepenggal ceritaku di Blitang. Tempat
yang sederhana, namun memiliki mitos dan keunikan.
Lokasi:
Bk.4 Buay Madang, Ogan
Komering Ulu Timur (OKU Timur), Sumatera Selatan.
Akses:
Sumatera Selatan.
Akses:
4 jam dari Bandara Sultan
Badarudin 2 Palembang.


Ngarang cerito kau ni,.
BalasHapus